Masker KN95, Apakah Benar Efektif?


Saat ini masker sudah menjadi kebutuhan pokok. Semua orang harus menggunakannya ketika berpergian demi terhindar dari virus. Hal tersebut berdampak pada produksi yang meningkat dan banyak varian hadir di tengah masyarakat khususnya masker KN95.

Bagaimana Tingkat Keefektifan Masker KN95?
Sekilas masker KN95 hampir mirip dengan N95 keduanya memiliki kesamaan pada angka 95. Namun, keduanya memiliki perbedaan. N95 diproduksi oleh negara Amerika, sementara KN95 produk dari China. Pertanyaannya apakah KN95 efektif?

1. Masker Sekali Pakai
Beberapa waktu lalu sempat terjadi simpang siur apakah KN95 aman jika dipakai berulang kali? Jawabannya tidak. Hal ini dapat menyebabkan pori-pori masker melebar akibatnya kebermanfaatan tidak lagi ada.

Penggunaannya memang hanya berlaku selama enam sampai delapan jam. Tidak boleh digunakan seharian. Selain itu juga tidak boleh membolak-baliknya. Terutama memaksakan untuk menggunakan bagian depan masker yang telah digunakan. Sebab hal tersebut dapat berbahaya.

2. Keampuhan Filter
Kondisi pandemi COVID-19 yang masih belum berakhir mengharuskan masyarakat untuk terus menjaga protokol kesehatan. Tidak hanya sekedar menggunakan masker, namun juga memastikan bahwa yang digunakan aman.

Belakangan kementrian kesehatan (Kemenkes) melarang penggunaan masker scuba dan buff. Alasannya yaitu efektifitas dalam melindungi dari kuman hanya berkisar antara 0,5 %. Berbeda dengan KN95 yaitu mencapai 95 % hal ini karena memiliki filter PM 2.5 dan dapat menyaring 2.5 mikrofon partikel.

3. Bahan yang Digunakan
Bahan dalam pembuatan masker adalah hal utama yang harus dipertimbangkan. Tidak semua jenis kain dapat digunakan sebagai bahan dasar. Selain itu, jumlah lapisan juga menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Jika tidak maka akan berdampak pada keefektifitasan perlindungan dari kuman atau virus.

Kementerian kesehatan (Kemenkes) lebih menyarankan untuk menggunakan yang 3 lapis. Senada dengan instruksi tersebut KN95 terdiri dari beberapa lapisan polimer plastik polipropilen dan juga terdapat bahan sintetis.

4. Simpang Siur Masker KN95
Meski sudah ada di tengah masyarakat beberapa bulan terakhir ini. Namun, faktanya masker KN95 masih simpang siur mengenai tingkat keefektifannya. Bahkan Emergency Care Research Institute (ECRI) telah melakukan penelitian terkait hal ini.

Ada sekitar 200 produk dari 15 produsen berbeda yang diuji oleh ERCI. Hasilnya kekuatan filternya hanya berkisar 60-70 % artinya tidak sampai 95%. Kemudian berdasarkan penelitian itu, masker tersebut dinilai dapat berisiko membuat pasien dan tenaga medis mudah terinfeksi.

5. Tidak Disarankan untuk Tenaga Medis
Dikutip dari klikdokter bahwa National Personal Protective Technology Laboratory AS (NIOSH) lebih menyarankan kepada tenaga medis, agar menggunakan masker KN95 jika stok N95 benar-benar tidak ada. Karena, penggunaan di wilayah dengan status beresiko tinggi tidak dianjurkan.

Pernyataan tersebut kemudian juga ditanggapi oleh dr. Devia irine bahwa hal tersebut perlu diusut lebih lanjut karena ada perbedaan kontras antara klaim dari pihak produsen dan fakta yang ada di lapangan. Beliau juga menambahkan bahwa masker KN95 masih aman jika digunakan untuk masyarakat umum.

Demikian ulasan mengenai masker KN95. Terlepas dari simpang siur isu tersebut. Memilih masker dengan tepat menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Tidak semuanya aman untuk digunakan pada kondisi pandemi seperti ini.

Demi menghindari penularan COVID-19 masker yang digunakan haruslah sesuai standar yang berlaku. Selain itu dengan memperhatikan seperti ukuran, bagian yang harus tertutup meliputi hidung, dagu, dan sekitar pipi. Penting untuk tetap jaga protokol kesehatan dan kondisi tubuh.
 

Tags: